Strategi meningkatkan penjualan

Strategi Meningkatkan Penjualan Starbucks ala Howard Schultz

Ini strategi meningkatkan penjualan unik ala Howard Schultz yang berhasil membawa Starbucks bisa membuka gerai toko di berbagai sudut kota!Yuk simak strategi meningkatkan penjualan unik ala Howard Schultz, yang tidak hanya menaikkan omset, tapi juga membawa Starbucks keluar dari lubang krisis!

Tulang punggung keluarga

Howard Schultz lahir ditengah keluarga miskin di Brooklyn. Saat kecil ia harus menjadi tulang punggung keluarga karena ayahnya kehilangan pekerjaan akibat patah tulang. Untuk menghidupi keluarga, ia bekerja banyak pekerjaan mulai dari loper koran hingga penjaga toko.

Namun karena memiliki bakat dibidang olahraga, ia mendapat beasiswa kuliah di Northern Michigan University pada 1971, dimana dia berhasil mendapatkan gelar Sarjana Komunikasi.

Jatuh hati dengan kopi

Strategi meningkatkan penjualan
Howard Schultz akhirnya diterima bekerja sebagai marketing meski dengan gaji yang lebih rendah

Howard Schultz kemudian bekerja disebuah perusahaan manufaktur & produsen kopi asal Swedia bernama Hammarplast. Di Hammerplast, Howard Schultz sadar bahwa ada sebuah kedai kopi di Seattle yang selalu membeli kopi mesin pembuat espresso dari kantornya yang bernama Starbuck.

Ia kemudian mengunjungi Starbucks dan jatuh hati dengan perkembangan bisnis tersebut. Howard Schultz akhirnya menelpon sang pimpinan dan meminta untuk bekerja di sana. Howard Schultz akhirnya diterima bekerja sebagai marketing meski dengan gaji yang lebih rendah dibandingkan Hammarplast.

Inovasi yang ditolak

Strategi meningkatkan penjualan
Howard Schultz mengutarakan ide dan konsep baru yang ia dapat kepada pendiri Starbucks, namun ide tersebut ditolak

Setahun bekerja di Starbucks, Howard Schultz kemudian dikirim ke Italia untuk belajar membuat resep kopi Italia.

Saat di Italia itulah Howard Schultz melihat bahwa kedai kopi di Italia tidak hanya sekedar menjual kopi, tapi juga menyediakan tempat duduk dengan mode kafe dan para pengunjungnya pun betah duduk berjam-jam.

Sekembalinya ke Amerika, Howard Schultz mengutarakan ide dan konsep baru yang ia dapat kepada pendiri Starbucks, namun ide tersebut ditolak karena Starbucks dianggap belum siap untuk berinovasi menjadi bisnis kafe.

Putuskan beli Starbucks

Schultz membeli Starbucks dan mengganti nama Il Giornale menjadi Starbucks

Pada tahun 1985 Howard Schultz memutuskan untuk keluar dari Starbucks dan membuka bisnis kopi sendiri.

Namun usaha Howard Schultz untuk membuka usaha tidak terbilang mudah. Ia membutuhkan dana yang besar dan untungnya, pendiri Starbucks mau meminjamkan ia uang sebesar US$ 400.000.

Melalui dana tersebut, ia membangun bisnis kopi bernama Il Giornale yang tidak hanya menawarkan kopi saja melainkan juga es krim. Kedainya juga menyediakan tempat duduk untuk menikmati kopi dan alunan musik khas Italia.

Tak disangka, Il Giornale mendapat sambutan yang hangat dari masyarakat dan mampu berkembang pesat melebihi Starbucks yang lebih dahulu didirikan.

Setahun menjalankan bisnis kedai kopi “Il Giornale”, Howard Schultz mendapat kabar kalau pendiri Starbucks akan menjual kedainya beserta brand kedai tersebut seharga kurang lebih 4 juta dollar. Ia kemudian membeli Starbucks dan mengganti nama Il Giornale  menjadi Starbucks.

Strategi meningkatkan penjualan yang sukseskan Starbucks

Strategi marketing
Di tahun 2000, Starbucks berkembang menjadi perusahaan global

Howard Schultz berinovasi dengan konsep kafe Starbucks yang modern. Ia menghadirkan barista profesional di sudut bar untuk menyajikan kopi secara langsung.

Setelah itu, ia kemudian bekerja keras memperluas jaringan kedai kopi Starbucks ke seluruh wilayah Amerika Serikat. Pengalaman serta pengetahuan Howard Schultz dibidang pemasaran membuat jaringan kedai kopi Starbucks berkembang dengan pesat.

Di tahun 1992, perusahaannya pun melantai di bursa. Di tahun yang sama, Starbucks mampu memperluas jangkauan perusahaannya dengan membuka 165 toko di Amerika Serikat.

Kesuksesan yang diraih Howard Schultz menarik perhatian masyarakat dunia. Di tahun 2000, Starbucks berkembang menjadi perusahaan global dengan total 3500 kedai kopi di seluruh penjuru dunia.

Strategi meningkatkan penjualan unik ala Starbucks

Banyak pihak yang mengkritik dan menganggap bahwa strategi meningkatkan penjualan yang ia terapkan hanya akan membawa Starbucks makin terpuruk

Perjalanan Starbucks untuk bisa sukses tidak bisa dinilai mulus. Kedai kopi ini pernah ditimpa krisis dan kondisi keuangan yang tidak pernah stabil.

Puncaknya pada tahun 2008 Starbuck berada dalam posisi krisis, Howard Schultz yang saat itu mundur dari posisi CEO memutuskan untuk kembali dan mengambil alih posisi CEO dan berusaha mengeluarkan Starbucks dari krisis.

Strategi meningkatkan penjualan yang diterapkan oleh Howard Schultz terbilang unik. Disaat perusahan atau bisnis lain akan membuat strategi sales baru, Howard Schultz malah membuat strategi meningkatkan penjualan dengan memperbaiki team internal.

Ia percaya bahwa jika ingin membawa Starbucks bangkit dari krisis dan melaju ke level yang lebih tinggi, hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan memperbaiki kualitas karyawan dan pelayanan pada customer.

Strategi meningkatkan penjualan yang ia ambil adalah dengan menutup seluruh gerai Starbucks di Amerika selama 3 jam untuk men-training karyawan agar bisa memberikan pelayanan yang lebih bagus dan maksimal ke customer.

Langkah yang dipilih oleh Howard Schultz terbilang sangat berani, karena ia bukannya memaksimalkan jam operasi Starbucks, tapi malah memotong jam operasional. Banyak pihak yang mengkritik dan menganggap bahwa strategi meningkatkan penjualan yang ia terapkan hanya akan membawa Starbucks makin terpuruk.

Namun Howard Schultz membuktikan bahwa strategi meningkatkan penjualan dengan meningkatkan kualitas pelayanan kepada customer bisa membawa dampak yang positif ke bisnis.

Banyak customer mencari-cari Starbucks, bahkan sengaja datang untuk minum kopi sebelum ditutup. Setelah buka kembali, para customer puas dengan hasil training dengan meningkatnya kualitas kopi yang dijual.

Karyawan: aset dalam strategi meningkatkan penjualan

Strategi meningkatkan penjualan
Salah satu cara untuk merekrut karyawan yang tepat adalah dengan mengetahui karakter karyawan

Strategi meningkatkan penjualan yang dilakukan oleh Howard Schultz dengan memperbaiki internal karyawan sering tidak terpikirkan oleh pebisnis lain.

Kebanyakan dari pebisnis saat membuat strategi meningkatkan penjualan sangat fokus pada strategi marketing. Strategi Howard Schultz membuktikan bahwa memperbaiki kualitas dan pelayanan terhadap customer adalah langkah pertama yang harus dilakukan oleh pebisnis.

Howard Schultz sadar bahwa karyawan adalah orang yang berhubungan langsung dengan customer. Puas atau tidaknya customer salah satunyasangat bergantung pada kepuasan pelayanan. Oleh karena itu ia rela menutup seluruh toko selama 3 jam untuk melakukan training pada karyawan.

Strategi meningkatkan penjualan oleh Howard Schultz yang unik ini sangat menekankan pada kualitas karyawan. Global Awards Winning Business Coach, Coach Yohanes G. Pauly menjelaskan bahwa karyawan adalah salah satu aset terpenting di bisnis, karena karyawan yang tepat akan membawa bisnis ke level yang lebih tinggi.

“Salah satu bentuk strategi meningkatkan penjualan adalah dengan melatih karyawan dalam berkomunikasi dengan customer. Jika pebisnis punya karyawan yang tepat, punya product knowledge, dan customer oriented, strategi meningkatkan penjualan akan berbuah manis.” ucap Coach Yohanes G. Pauly.

Oleh karena itu, pebisnis harus merekrut karyawan yang tepat. Salah satu cara untuk merekrut karyawan yang tepat adalah dengan mengetahui karakter karyawan.

Coach Yohanes G. Pauly menjelaskan ada 4 karakter karyawan yang harus diketahui oleh pebisnis:

1. Dominance (D)

Jika ingin rekrut karyawan yang punya inisiatif tinggi maka orang tipikal D inilah yang harus direkrut

Karakter D memiliki inisiatif tinggi untuk melakukan sesuatu, aktif dan berani untuk mengambil resiko. Di dunia bisnis karakter dominan rata-rata berada di posisi leader, supervisor, manager dan posisi sentral lainnya.

Jika ingin rekrut karyawan yang punya inisiatif tinggi maka orang tipikal D inilah yang harus direkrut!

Baca juga:

2. Influence (I)

Karakter ini memiliki komunikasi yang bagus, mampu memengaruhi orang lain dan memiliki kepribadian yang hangat. Kekurangan karakter I adalah cenderung sensitif dan selalu ingin menjadi pusat perhatian.

Coach Yohanes G. Pauly mencontohkan mayoritasnya karakter I jika dipaksakan untuk masuk ke 1 bagian bisnis, maka karakter I biasanya di bagian marketing & sales.

Jika pebisnis ingin rekrut karyawan yang bisa komunikasi dengan baik, mahir dalam mempengaruhi orang lain, maka karakter I ini lah yang harus direkrut!

3. Steadiness (S)

Karakter S jika dipaksakan untuk masuk ke 1 bagian saja, maka karakter S biasanya di bagian Human Capital

Coach Yohanes G. Pauly yang juga merupakan Founder & Master Coach di GRATYO® Practical Business Coaching menjelaskan bahwa karakter S sangat tenang, menyukai segala sesuatu yang harmonis, loyal dan cenderung tertutup.

Sedangkan untuk dunia bisnis, karakter S jika dipaksakan untuk masuk ke 1 bagian saja, maka karakter S biasanya di bagian Human Capital karena cenderung lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, harmonis dan loyal.

Tentunya pebisnis tidak akan rekrut karyawan yang cenderung mendengarkan di bagian sales, bukan?

4. Compliance (C)

Karakter C adalah cermat dan sangat fokus ke tugas. Karakter C sangat teliti, detail dan mengikuti seluruh prosedur. Kekurangan karakter C adalah membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengambil keputusan.

Sedangkan untuk dunia bisnis, karakter C jika dipaksakan untuk masuk ke 1 bagian saja maka karakter C bisa dibagian finance & accounting karena sangat teliti dan teratur mengikuti prosedur.

Coba bayangkan jika Anda menempatkan orang yang tidak teliti di bagian ini saat rekrut karyawan!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *