cara memasarkan produk

Cara Memasarkan Produk Louis Vuitton oleh Bernard Arnault yang Jadikan Ia Orang Terkaya Ketiga di Dunia

Simak cara memasarkan produk tanpa banting harga ala Bernard Arnault, orang terkaya 3 dunia & pemilik industri brand mewah Louis Vuitton. Anda bisa katakan “selamat tinggal” ke masa-masa saat salon customer selalu banding-bandingkan produk atau jasa Anda dengan kompetitor yang mengakibatkan Anda terjebak dalam perang harga berkepanjangan!

Anak pengusaha

Bernard Jean Étienne Arnault lahir dari pasangan Jean Léon Arnault dan Marie-Josèphe Savinel. Keluarganya merupakan pengusaha sebuah bisnis bernama Ferret-Savinel yang bergerak di bidang manufacturing.

Setelah lulus kuliah dengan jurusan teknik, Bernard Arnault bekerja di perusahaan orang tuanya untuk menimba ilmu dan pengalaman. Selama 5 tahun bekerja, ia kemudian mencoba meyakinkan orang tuanya untuk mengembangkan bisnis tersebut di bidang real estate. Namun kondisi Perancis yang masih sangat konservatif menghambatnya untuk bisa mengembangkan perusahaan.

Perusahaan orangtua Bernard Arnault kemudian berubah nama menjadi Ferinel dan pada tahun 1974 ia menduduki posisi sebagai direktur, chief executive di tahun 1977 dan menjadi presiden direktur di tahun 1979, meneruskan posisi ayahnya.

Awal kisah kerajaan bisnis brand mewah

cara memasarkan produk
Bernard Arnault mengambil alih banyak bisnis besar

Menjadi presiden direktur perusahaan ayahnya di usia yang masih tergolong muda tak membuat Bernard Arnault mudah berpuas diri. Dengan bantuan Antoine Bernheim, mitra kerja di Lazard Frères, Bernard Arnault mengambil alih Financière Agache, sebuah produsen barang mewah dan menjadi CEO di perusahaan tersebut.

Bernard Arnault kemudian juga turut mengambil alih Boussac Saint-Frères, bisnis tekstil milik Christian Dior yang kondisi internal bisnisnya tengah carut marut. Christian Dior menjual seluruh aset Boussac ke Bernard Arnault dan hanya menyisakan bisnis brand Christian Dior dan Le Bon Marché.

Baca juga:

Mulai dari Louis Vuitton Moet Hennessy (LVMH) hingga Sephora

Bernard Arnault Louis Vuitton
LVMH bertansformasi menjadi perusahaan yang memproduksi barang mewah terbesar di dunia

Pada tahun 1987, Bernard Arnault berinvestasi di perusahaan LVMH (Louis Vuitton Moet Hennessy) melalui Henri Racamier. Pada Januari 1989, Bernard Arnault memiliki jumlah total 43.5% saham LVMH yang membuatnya terpilih sebagai CEO dari LVMH.

Tak banyak yang tahu perjuangan Bernard Arnault dalam membangun LVMH yang saat itu juga tengah berada dalam kondisi yang sulit. Bernard Arnault secara bertahap merangkak untuk membangun LVMH supaya bisa kembali beroperasi dengan lancar.

Usaha dan kerja kerasnya membawa hasil yang gemilang, dibawah kepemimpinannya, LVMH bertansformasi menjadi perusahaan yang memproduksi barang mewah terbesar di dunia.

Melalui cara memasarkan produk yang diterapkannya, total penjualan dan profit LVMH naik 5 kali lipat dan harga pasarnya naik hingga 15 kali lipat.

Salah satu kunci sukses Bernard Arnault dalam cara memasarkan produk adalah dengan membuat sistem desentralisasi dan usahanya untuk membuat kisah dan cerita dari masing-masih brand, sehingga setiap perusahaan yang berada dibawah LVMH dipandang sebagai brand independen yang memiliki sejarah dan kisahnya masing-masing.

Ingin makin mengembangkan bisnisnya, Bernard Arnault kemudian mengakuisisi Céline, brand yang memproduksi baju mewah. Ia juga mengakuisisi Berluti, Kenzo dan koran ekonomi Perancis La Tribune.

Namun cara memasarkan produk yang ia terapkan di brand LVMH tidak sepenuhnya bisa diterapkan di koran ekonomi La Tribune yang basisnya adalah jurnalistik. Meskipun sudah berinvestasi hingga senilai 150 juta euro, La Tribune tidak memberikan keuntungan yang signifikan. Bernard Arnault menjual koran tersebut dan membeli koran ekonomi Perancis berbeda yang bernama Les Échos seharga 240 juta euro.

Tak cukup disana, Bernard Arnault juga mengakuisisi brand lain seperti parfum Guerlain, Loewe, Marc Jacob, Sephora, Thomas Pink, Emilio Pucci, Fendi, TAG Heuer, Bulgari dan brand lain. Hingga tahun 2020, LVMH menaungi total 70 brand yang tersebar di berbagai negara di dunia.

Louis Vuitton: cara memasarkan produk tanpa perang harga

Louis Vuitton selalu menjadi incaran pangsa pasar dan selalu ditunggu setiap launching

Louis Vuitton adalah salah satu brand barang mewah yang sangat terkenal dan laku. Louis Vuitton yang awalnya hanya memproduksi koper makin berkembang dan ekspansi ke barang-barang lain.

Sebagai salah satu barang mewah yang dibanderol dengan harga mulai dari puluhan juta per barangnya, Louis Vuitton selalu menjadi incaran pangsa pasar dan selalu ditunggu setiap launching.

Harga yang selangit tidak menghentikan customer untuk membeli, bahkan permintaan kian meningkat dan nama brand Louis Vuitton makin melekat di mata publik. Louis Vuitton bisa memasarkan produknya di 50 negara dengan total official store sebanyak 500 store.

Louis Vuitton terkenal akan jumlah produk tiap edisi yang dijual secara terbatas dan hanya bisa didapatkan di toko eksklusif milik Louis Vuitton. Toko Louis Vuitton pun tak sembarang lokasi, lokasi yang dipilih adalah tempat-tempat elite yang sering dikunjungi oleh target market mereka.

Cara memasarkan produk Louis Vuitton yang paling khas adalah dengan menonjolkan produk yang dibuat adalah hasil buatan tangan, bukan diproduksi massal di pabrik, sehingga produk-produk yang dijual sangat eksklusif dengan menggandeng desainer terkenal dan ahli di bidangnya.

Eksklusifitas yang ditonjolkan mulai dari proses produksi hingga lokasi store juga berlanjut pada cara memasarkan produk yang tidak sekalipun pernah memberikan diskon. Berbeda dengan bisnis lain yang sering memberikan diskon ataupun sale, Bernard Arnault menilai bahwa strategi dengan cara memasarkan produk Louis Vuitton tanpa ada diskon dan sale inilah yang menjadikannya produk mewah dan bernilai tinggi.

Rahasia cara memasarkan produk yang bisa ditiru dari Bernard Arnault & Louis Vuitton

cara memasarkan produk
Banyak pebisnis yang terlalu fokus dalam menjual fungsi produk atau jasanya saja

Bernard Arnault sukses menjual Louis Vuitton dan memasarkannya ke berbagai negara di dunia meskipun dengan harga yang selangit. Kesuksesan Bernard Arnault tanpa harus banting harga dan bisa tetap laku dipasaran sering malahan bertolak belakang dengan apa yang dijumpai pebisnis lain.

Di lapangan pebisnis sangat susah untuk menarik calon customer agar beli di bisnis. Satu-satunya jalan keluar sebagai cara untuk memasarkan produk yang paling sering digunakan oleh pebisnis adalah dengan banting harga agar caloncustomer mau beli di bisnis.

Cara memasarkan produk dengan banting harga ini tentunya tidaklah efektif karena ujung-ujungnya pebisnis akan rugi. Dan sekalinya pebisnis memasarkan produk atau jasa dengan harga normal, calon customer akan berpindah ke kompetitor.

Global Awards Winning Business Coach, Coach Yohanes G. Pauly mengatakan pebisnis seringkali salah dalam menerapkan cara memasarkan produk. Banyak pebisnis yang terlalu fokus dalam menjual fungsi produk atau jasanya saja.

“Kesalahan terbesar pebisnis saat menerapkan cara memasarkan produk adalah terlalu fokus pada functional benefit dan melupakan emotional benefit. Brand seperti Louis Vuitton itu mereka tidak menjual fungsi tasnya, yang mereka jual adalah emotional benefitnya.” ucap Coach Yohanes G. Pauly.

Cara memasarkan produk yang terlalu fokus menjual pada functional benefit akan menyentuh bagian logic di otak kiri customer sehingga yang terjadi adalah customer akan membandingkan produk dengan yang dijual kompetitor. Jika customer tidak menemukan perbedaan, ujung-ujungnya yang dilihat customer adalah harga, dan terjadilah perang harga.

Sedangkan cara memasarkan produk dengan menjual emotional benefit adalah dengan menyentuh ke hati customer. Bila hatinya sudah tesentuh, maka harga kurang relevan bahkan seringkali tidak relevan.

Begitu pula cara memasarkan produk yang diterapkan oleh  Bernard Arnault di Louis Vuitton. Cara memasarkan produk yang dengan menyentuh ke hati customer, dengan mengkomunikasikan bahwa produk Louis Vuitton adalah barang mewah yang eksklusif, hanya bisa didapatkan di lokasi tertentu, diproduksi dengan jumlah terbatas dan dibuat oleh desainer ternama.

Yang terjadi adalah customer merasa tersentuh, merasa bahwa saat mereka menggunakan Louis Vuitton, strata dan kelas mereka naik dan ada perasaan bangga dan eksklusif yang dirasakan.

Coach Yohanes G. Pauly yang juga Founder & Master Coach di GRATYO Practical Business Coaching ini menambahkan bahwa jika pebisnis bisa menemukan emotional benefit, maka bisnis akan go to the next level, jauh meninggalkan bisnis lain sejenis yang fokusnya hanya ke functional benefit.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *